Pembajak & Kenyataan

Hari ini membaca dua kolom menarik. Kebetulan lagi mampir di rumah orang tua. Langganan majalah dan korannya banyak disana. Sekalian numpang makan siang 🙂

Pertama, tajuknya A. Margana dari Kontan. Beliau menjelaskan kenapa bangsa Asia sekarang bisa maju dan mampu menjadi pesaing bagi negara-negara di Barat. Rahasianya adalah menjadi pembajak yang bijak.

Mencoba bangkit dari keterpurukan setelah perang dunia kedua sampai dengan tahun 80-an. Mulai dari Jepang, Taiwan, China sampai India. Mereka rajin menerjemahkan dan menerbitkan hampir semua buku teks dan buku ilmiah dari Barat. Dengan kata lain mereka menggalakan rakyatnya untuk membaca dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari negara maju. Hasilnya?

Tengok saja. Barang-barang sekitar kita. Dari komputer, pakaian dan bahkan sekarang SDM, semua Made in Japan, Taiwan, China atau India. Indonesia? bicara mayoritas, lebih senang bajak film atau musik. Alhasil. Kita puas hanya menjadi penonton dan penikmat kemajuan negara-negara tetangga.

Jangan bergantung selalu dengan pemerintah. Justru coba bantu sesuai dengan kemampuan yanga ada. Dari kolom kedua yang saya baca. Fareed Zakarian, kolumnis World View Newsweek, mengangkat Realism dan Responsibilty sebagai tulisannya kali ini.

Paragraph ketiga dari bawah. Dia menulis, banyak cara yang bisa kita lakukan dengan keadaan pemerintahan yang penuh ketidaktransparansian dan korupsi. Kalau masih takut sumbangan yang kita berikan akan dikorupsi. Uang yang ada bisa dialihkan dengan melakukan penelitian atau program sendiri yang menunjang kesejahteraan lingkungan sekitar. Kesehatan atau pendidikan misalnya.

Selain uang tersebut dikeluarkan seefisien mungkin, hasilnya tentu akan sangat berguna bagi masa depan satu negara (dalam tulisan ini dia contohkan Afrika). The Bill and Melinda Gates Foundation telah memperlihatkan dengan cara yang cerdas, fokus dan disiplin, siapa saja dengan kemampuan yang ada bisa melakukan perubahan.

Jangan hanya memberi. Merasa puas dan baik karena sudah membantu. Tidak salah juga. Namun, ada baiknya kalau masih punya kemampuan. Lakukan sesuatu untuk perubahan. Sekecil apapun. Semua akan balik ke keluarga kita nantinya.

Gelang Semangat

Dahsyat benar. 14 Juni waktu setempat. Asafa Powell berhasil memecahkan rekor lari 100 m di IAAF Super Grand Prix Tsiklitiria yang berlangsung di Stadion Olympic Athena. Waktunya? 9.77 detik!

Asafa Powell
(AP Photo/Thanassis Stavrakis)

Coba lihat ditangan kanannya. Gelang kuning LIVESTRONG. Gelang yang dikeluarkan Yayasan Lance Armstrong (dananya untuk penelitian kanker). Walaupun diluncurkannya sudah setahun yang lalu, gelang tersebut rupanya masih terus melekat di tangan Asafa.

Mudah-mudahan gelang [solid] bisa memberikan efek yang sama bagi para pemakainya. Gelang yang menjadi pengikat kebersamaan antar kita. Tidak hanya asesoris tren sesaat. Sama halnya kenapa Asafa masih terus memakai. Gelang [solid] bisa dijadikan satu kekuatan atau reminder bagi pemakainya, kalau masih banyak anak-anak Indonesia yang perlu kita bantu. Semangat!

1 Dari 5

Koran Jakarta Post hari ini mengangkat berita hasil survey terbaru dari badan dunia ILO. Diberitakan, 1 dari 5 anak tidak bisa meneruskan sekolah. Sekitar 19% anak-anak usia sekolah dasar tidak mampu masuk sekolah, yang mengakibatkan banyak anak-anak tersebut menjadi buruh/pekerja.

Survey dilakukan di lima provinsi: Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Para responden adalah mereka yang termasuk kategori keluarga tidak mampu dan mempunyai anak-anak usia sekolah.

Biaya yang tinggi menjadi faktor utama mengapa mereka tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. 71% responden mengatakan faktor biaya yang mengakibatkan anak-anak mereka putus sekolah. Selain biaya sekolah, biaya seperti seragam dan transportasi merupakan beberapa faktor yang mengakibatkan mahalnya memasukan anak mereka ke sekolah.

Mari pelan-pelan sisihkan sekecil apapun, baik itu seragam bekas maupun sedikit dana untuk belikan buku atau alat tulis. Kumpulkan bersama keluarga atau teman dekat. Masih banyak anak-anak disekitar lingkungan rumah maupun kantor yang mendambakan seragam atau buku baru. Jadi sukarelawan kecil2an. Bantu anak-anak kecil ini. Biar kecil yang penting rutin 🙂

Solidaritas Adriansyah

“…Perlu anda ketahui bahwa uang pembelian gelang itu adalah dari uang saku anak saya Adriansyah (14 tahun 4 bulan) yang terpilih sebagai kiper tim piala Liga remaja Persib Bandung (Piala HAORNAS-kelompok usia 15).

Selama 2 bulan lebih dia bergabung dengan tim ini dan mendapatkan uang saku. Dari jatah uang saku bulanan orangtuanya ini ingin dia sumbangkan untuk tunascendekia. Dan anak saya bermaksud akan membagi-bagikan gelang tersebut kepada teman-temannya di tim Persib liga remaja yang kompetisinya akan dimulai pertengahan Juni ini.

Mohon bantuan do’a-nya supaya anak saya terus maju baik di sekolahnya maupun di bidang olahraganya. terimakasih, Yus Lubis”.

Pesan diatas berasal dari salah satu email yang kami terima setiap harinya.

Inilah beberapa harapan yang ingin ditimbulkan dari gerakan [solid]. Pengumpulan dana memang bukan menjadi tujuan utamanya. Harapan terbesar adalah bagaimana setiap orang yang memakai gelang [solid] bisa memberikan satu perubahan kecil dalam kehidupannya.

Diharapkan perubahan yang dilakukan tersebut bisa juga merubah kehidupan orang-orang yang ada disekitarnya. Yus Lubis melakukannya dengan memberikan tauladan bagi anaknya. Adriansyah melihat, dan akhirnya memutuskan untuk menggunakan uang tabungannya sendiri untuk bisa membeli gelang [solid]. Diapun berencana membagikannya untuk yang lain.

Satu langkah sederhana dan kecil. Satu langkah kepedulian yang pastinya akan diikuti oleh langkah-langkah kecil berikutnya. Siapapun. Dimanapun. Kapanpun. Dan kepada siapapun. Kita bisa melakukannya. Ayo, mulai hari ini juga.

*) anda punya cerita menarik seputar pengaruh gelang [solid] pada diri maupun lingkungan sekitar. Baik itu lucu, membanggakan, menyedihkan atau mengherankan. Kirim ke info@tunascendekia.org dan bagikan pengalaman anda kepada sahabat solidaritas yang lain. Saya yakin cerita-cerita sederhana seperti diatas bisa memberikan pengaruh luar biasa bagi para pembacanya.

Karena keterbatasan tempat, tidak semua cerita akan kami tampilkan di situs ini. Harap maklum…

Kebaikan Untuk Semua

Ada dua persoalan urgen yang sedang dialami dan sampai sekarang belum ditemukan obat yang paling pas diterapkan pada bangsa Indonesia. Kemiskinan dan Kebodohan. Pernyataan tersebut dikemukankan Albert Lo dari Toymaster, yang saya kutip dari tulisan Widi Yarmanto di Gatra.

Jangan panik atau malas dulu memikirkan. Paling tidak dengan membaca terus tulisan ini masih ada sedikit keinginan untuk memperbaiki. Sekarang yang harus dilakukan adalah bagaimana meyakinkan sesama bangsa, atau paling tidak orang terdekat. Walaupun terlihat masalah semakin kompleks dan terlalu besar untuk ditanggullangi, kita masih punya secercah harapan untuk bisa merubah keadaan.

Bayangkan satu pertandingan sepak bola atau bulu tangkis. Dimana salah satu bagian yang sangat tidak diunggulkan tiba-tiba mendapat angin. Akhirnya berhasil membalik keadaan memenangkan pertarungan. Sudah banyak kita melihat secara langsung maupun di televisi kejadian ini di depan mata.

Tanamkanlah semangat pantang menyerah dalam diri dan anak-anak kita. Yakinlah suatu saat akan ada satu angin yang akan menjadi satu kekuatan dahsyat yang akan membawa bangsa ini, secara perlahan-lahan, keluar dari kebodohan dan kemiskinan.

Persiapkan mental untuk setidaknya lakukan hal-hal sederhana yang sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari jiwa kita. Lakukan kebaikan. Lakukan terhadap siapa aja. Albert mengatakan Tuhan menciptakan kebaikan itu universal. Kalau manusia sudah mulai terkotak-kotak, maka kebaikan yang diwujudkan pasti berpamrih. Kebaikan yang anda lakukan mudah-mudahan bisa menulari keluarga dan teman-teman disekitar.

Dari kebaikan satu dua orang lama-lama menjadi kebaikan kolektif yang melahirkan suatu angin kekuatan pemberantas kemiskinan dan kebodohan.

Ingat, kita tidak akan pernah tahu siapa yang akan menolong kita nanti, siapa yang akan mengajak anak-anak kita nanti bekerja, siapa yang akan menjadi dokter bagi istri atau suami kita atau siapa yang akan menjadi orang tidak dikenal yang sudah membantu cucu kita terhindar dari kecelakaan…

Apa Sih?

Terima kasih bagi yang baru pertama kali buka situs ini. Bisa jadi bingung atau penasaran, belakangan ada satu dua saudara atau teman terlihat memakai gelang merah.

Tulisan ini hanya sekedar informasi sekilas bagi yang sama sekali belum tahu. Sekalian menyegarkan kembali ingatan bagi yang menulis dan yang sudah membeli gelang. Siapa tahu mau beli lagi 🙂

Gelang merah yang mulai malu-malu muncul terlihat ini merupakan gelang solidaritasKEBERSAMAAN. Siapa yang memakai (tentunya dengan membeli terlebih dahulu), berarti sudah ikut membantu perbaikan pendidikan dan perlindungan bagi anak-anak Indonesia. Untuk tujuan inilah mengapa dijual gelang seharga @ Rp.10.000,-

Mengapa harus dengan memakai gelang? Mengapa tidak. Berbagai cara sudah dilakukan oleh banyak individu sampai perusahaan untuk membantu anak-anak Indonesia. Masih banyak cara yang bisa dilakukan, dan inilah salah satu caranya. Banyak sahabat solidaritasKEBERSAMAAN (sebutan untuk mereka yang pakai dan rajin membujuk orang untuk pakai) mengaku, dia sendiri tidak tahu kenapa akhirnya gelang ini dipakai terus. Awalnya memang sekedar ingin membantu dengan membeli. Namun ketika dia pakai dan orang sekitar mulai bertanya. Disinilah keajaiban kebersamaan mulai berbicara…

Setelah saudara atau teman tadi tahu untuk apa tujuan pembelian dan pemakaian gelang ini, satu per satu mulai salut. Kenapa saudara gw sampai mau pakai? Apa makna terdalam dari gelang ini sampai terus setiap hari menghiasi tangan teman gw? Secara tidak sadar sebenarnya si pemakai gelang sangat paham. Jawabannya cukup sederhana.

Dalam hati nurani setiap manusia, kita punya keinginan untuk bisa menolong sesama. Caranya berbeda-beda. Hasilnya juga beda-beda. Tapi untuk bisa mengajak saudara dan teman terkadang kita masih sering mengalami kesulitan. Walaupun untuk tujuan baik. Dengan adanya gelang ini bagi sebagian orang merupakan salah satu cara efektif untuk bisa menarik perhatian orang. Tanpa harus memaksa. Sekedar dengan memakai dan menjelaskan jika ditanya.

Selanjutnya? Keajaiban dari rasa kebersamaan akan muncul dengan sendirinya. Kebersamaan muncul karena, kita adalah bangsa Indonesia. Bangsa yang sebenarnya mempunyai akar kuat kebersamaan untuk menolong sesama. Gotong Royong, Berbeda Tapi Satu, slogan yang sejak kecil sudah menjadi ingatan terpendam dalam setiap orang. Bisa jadi karena berbagai macam kesibukan dan pengaruh membuat sebagian sedikit lupa dengan rasa kebersamaan tadi. Siapa tahu kekuatan kebersamaan yang dimunculkan secara pelan-pelan ini bisa menjadi sebuah permulaan yang baik bagi diri sendiri maupun bangsa.

Terima kasih sudah mau peduli.

Ingin bantu anak-anak Indonesia? hubungi kami di info@tunascendekia.org atau hotline 08161833443 Dukungan anda sangat berarti!

CEK PENIPUAN!

Museum Penipuan Indonesia
MuseumPenipuanIndoneswia.tunascendekia.org
Lebih dari sekedar bukti kepedulian.
Ikatan solidaritasKEBERSAMAAN diantara kita...

jejaring sosial

Kunjungi Facebook Fan Page Yayasan Tunas Cendekia facebook.com/bantuAnakIndonesia