Guru Bangsa

“Diperlukan kekuatan besar dan tangguh untuk mengatasi persoalan bangsa kita. Kekuatan itu, insya Allah, bisa terwujud dengan adanya peneguhan kembali ikatan batin semua warga negara pada cita-cita nasionalnya, disertai pembaruan tekad bersama untuk melaksanakannya.”

Nurcholish Madjid
(17 Maret 1939 – 29 Agustus 2005)

Hari Anak Nasional’05

Tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Berbanggalah anda yang saat ini masih berstatus sebagai anak. Bagaimana tidak? Hari ini sengaja didedikasikan bagi kita, anak-anak Indonesia. Anak-anak yang akan dan sedang membawa bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik.

Orang tua selalu mengatakan sampai umur berapapun kita, selama mereka hidup di dunia ini kita akan selalu menjadi seorang anak di mata mereka. Terkadang hal ini masih sulit diterima oleh sebagian orang. Masa sudah punya anak masih terus dibilang anak-anak :d. Perasaan ini baru terasa sampai akhirnya menginjak fase hidup seperti orang tua kita.

Sejak hari ini, mari kita jalani hidup dengan tambahan semangat dari HAN. Sebagai anak yang mulai ‘dewasa’ coba berusaha memberikan sesuatu yang lebih bermakna dalam hidup anak-anak kita. Tidak hanya anak sendiri, tapi juga anak-anak yang lain. Pastikan mereka mempunyai bekal tidak hanya harta dan jabatan. Pastikan mereka mempunyai modal hati dan pikiran yang kuat. Semua itu kelak akan menjadi bekal mereka dalam hidup berdampingan di Indonesia yang lebih baik nantinya.

Selamat Hari Anak Nasional sahabat!

anakBIAK
Foto: Ilias Irawan

Chew Hoong Ling

Sore tadi di lobi Aston Hotel akhirnya berhasil ketemu dengan Chew. Ramah sekali orangnya :). Awalnya saya tahu dia dari email yang pernah dia kirim mengenai ketertarikannya akan kampanye [solid]. Ternyata orang Malaysia. Setelah saling email. Kita janjian untuk bertemu karena dia ingin menyumbangkan sesuatu untuk kampanye ini.

Dalam hati saya berpikir, baik sekali orang ini. Walaupun dari negeri tetangga dan hanya tahu kegiatan kita via situs, tapi tetap mau membantu anak-anak Indonesia. Ternyata dia membawakan banyak buku untuk disumbangkan ke program-program YTC. Sebagai tambahan, dia berikan gelang kepedulian berwarna hijau yang dikeluarkan oleh Nu Skin, tempat dia berusaha.

Tidak disangka, kalau gerakan [solid] tidak hanya membuat bangsa sendiri menjadi semakin peduli, tapi juga bisa membuat bangsa lain ikut peduli :). Chew membuka hati saya untuk tidak hanya melihat anak dalam satu komunitas yang sempit. Seorang anak dimanapun dia berada, tetap saja seorang anak yang dilahirkan atas kehendak Tuhan.

Sadar atau tidak. Chew memperlihatkan saya, sesibuk apapun diri kita. Kesempatan membantu seorang anak dimanapun kita berada bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan waktu bisnis maupun liburan. Terbukti bisa disatukan. Chew memilih untuk mengisi waktu luang di sela perjalanan bisnisnya untuk membantu. Sederhana saja. Dia browsing. Cari tahu badan atau orang yang menerima bantuan di tempat dia sering pergi. Email orangnya. Dan hasilnya…bertemulah saya dengannya.

Sahabat Menulis

Dalam perjalanan kampanye [solid], YTC menerima email yang berisikan cerita dari banyak sahabat. Asalnya dari berbagai daerah di Indonesia. Yang menjadi kesamaan dari email-email ini, isinya selalu memberikan semangat kepada kami semua yang membacanya.

Salah satunya email dari Bondan. Dia menulis…

Awalnya anak-anak saya minta dibelikan gelang warna. Tapi saya tidak mau begitu saja membelikan, karena ingin mereka membeli gelang kepedulian yang benar/asli untuk tujuan amal. Alasan ini yang saya kasih tahu ke mereka.

Kebetulan di kantor ada internet dan saya menemukan situs one.org. Tapi jauh kalau mau pesan. Maka saya coba cari ada tidak gelang kepedulian di dalam negeri…eh ada yang beritahu tentang tunascendekia.org. Akhirnya dapat juga gelangnya. Yang lebih membuat saya bangga lagi adalah anak-anak ternyata lebih menyukainya, karena mereka tahu makna dari gelang merah ini..[solid]

Kami selalu menunggu cerita apa saja dari anda seputar gerakan maupun gelang [solid]. Lucu, menarik, sedih atau bahkan menjengkelkan. Kirimkan cerita anda ke info@tunascendekia.org Bisa jadi cerita-cerita tersebut akan memberikan inspirasi dan harapan bagi orang yang membacanya.

Bincang Sahabat

Sahabat: Dudi Gurnadi.
Lokasi: Malang.

Apa tanggapan orang ketika pertama kali melihat anda memakai gelang [solid]?
Biasanya yang mereka tanyakan pertama kali adalah, “Ini gelang apa? kok ada tulisan solidaritas kebersamaan?”

Setelah mereka tahu arti dari gelang [solid]?
Ada yang pro dan ada juga yang kontra. Bagi teman-teman yang pro… mereka tertarik sekali memiliki gelang [solid]. Namun ketika diberitahu (untuk luar Jakarta ) baru bisa dipesan melalui situs, mereka langsung minta bantuan saya terus. Sepertinya hampir sebagian besar ingin cepat mendapatkannya tanpa harus pesan. Itu sebabnya saya sempat tanya ke anda, bagaimana cara menjadi mitra penjual, biar tidak repot pesan bolak-balik :). Sementara teman-teman yang kontra, ada yang mengatakan, “Ide bisnis ada-ada aja sekarang pake dalih solidaritas.”

Apa yang menjadi daya tarik gelang [solid]?
Warna dan tulisannya. Waktu itu pas ketemu teman lama, dia bilang saya centil sekali pakai gelang ini. Bagi yang belum tahu seputar gelang peduli ini pasti akan penasaran tanya.

Hal kecil atau sederhana seperti apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak-anak?
Pengumpulan perangkat sekolah seperti buku, alat tulis atau perangkat standart lainnya yang masih mampu kita beli. Untuk kemudian disumbang. Atau ide seperti perpustakaan keliling yang YTC sudah realisasikan itu juga menarik untuk bisa dilanjutkan diberbagai pelosok Indonesia.

Siapa tokoh yang anda kagumi, berjasa/peduli dengan nasib anak-anak di Indonesia?
Saya tidak begitu tahu banyak. Tapi Kak Seto adalah salah satu orang yang terlihat sangat peduli pada dunia anak-anak. Sepengetahuan saya, sejak kecil sampai sekarang sepak terjang Kak Seto masih terus berkutat seputar anak. Patut diacungi jempol karena beliau berani konsisten untuk memperjuangkan nasib anak-anak Indonesia.

Jika terlahir kembali menjadi seorang guru, ingin menjadi guru apa?
Bisa jadi guru praktikum komputer/elektronik. Sesuai dengan hobby saya sekarang :))

Kerja Sama

Herdiana Khiel membuktikan dengan modal kebersamaan dan langkah kecil yang kongkrit kita bisa membantu anak-anak Indonesia.

Dari artikel KOMPAS halaman 19 hari ini, sedikit banyak belajar dari kegigihan Herdiana. Setelah melihat begitu banyaknya sekolah rusak di sekitar tempat tinggalnya, Rancamaya, dia menggandeng Rotary Club Jakarta Menteng untuk membantu merenovasi dan membangun sekolah tersebut.

Biaya yang dibutuhkan untuk merenovasi satu sekolah mencapai Rp. 120 juta. Gedung SDN 05 Cijeruk berhasil direnovasi enam ruang ruang kelas, perpustakaan, ruang guru, mebel dan kamar kecil. Ini merupakan sekolah ketujuh yang dibangunnya bersama Rotary Club.

Mari..mari kita saling bergandeng untuk membangun dan membantu sekolah anak-anak Indonesia yang masih rusak. solidaritasKEBERSAMAAN!

Ingin bantu anak-anak Indonesia? hubungi kami di info@tunascendekia.org atau hotline 08161833443 Dukungan anda sangat berarti!

CEK PENIPUAN!

Museum Penipuan Indonesia
MuseumPenipuanIndoneswia.tunascendekia.org
Dari 100 orang miskin Indonesia, 73 tidak mendapatkan akses sanitasi yang layak!
Saatnya jalin solidaritasKEBERSAMAAN diantara kita...

jejaring sosial

Kunjungi Facebook Fan Page Yayasan Tunas Cendekia facebook.com/bantuAnakIndonesia