Kiosk Buka Kembali!

Setelah beberapa bulan mengalami pembenahan. Akhirnya Kiosk Online YTC kembali dibuka. Pada saat saya menulis tulisan ini, sang arsitek kiosk, Tacoen, sedang mempersiapkan dan memperhatikan ruangan yang akan siap dibuka besok. Jaga-jaga. Siapa tahu ada cat yang belum kering 🙂

Mulai Senin 20 Juni jam 09.00 WIB, kiosk dibuka bagi anda yang mau melakukan pemesanan gelang [solid]. Penggunaan kiosk YTC semoga akan memperlancar urusan pemesanan dan pengiriman. Klik saja e-store yang berlokasi di kanan atas layar komputer anda.

Selama ini kita terpaksa harus saling berkirim email untuk melakukan pemesanan dan konfirmasi pesanan anda. Dengan mulai jalannya kiosk, anda tinggal pilih salah satu paket gelang yang diinginkan. Isi data-data yang dibutuhkan. Lalu tunggu email konfirmasi dikirim ke inbox anda. Ikuti dengan seksama petunjuk yang ada agar gelang pesanan bisa segera dikirim.

Tapi ingat. Anda bisa pesan selama stok masih ada.

Sekarang kiosk online dulu. Mudah-mudahan nanti bisa buka kiosk di dunia nyata yang khusus jual barang-barang kampanye [solid]. Kalau ada yang mau bantu boleh loh 🙂

Seperti biasa jika ada yang membingungkan soal kiosk baru, kami akan selalu tunggu kabar anda via info@tunascendekia.org

Gelang di Berbagai Kesempatan

Ada dua acara di minggu ini yang menggunakan gelang [solid] sebagai bentuk rasa kepedulian terhadap anak-anak Indonesia.

Jumat malam kemarin. Lokasi Citos, acara teman-teman V management di Mister Bean Coffee. Terima kasih untuk Echa yang sudah mau menggunakan YTC sebagai tempat penyaluran donasi. (turut berduka cita ya atas meninggalnya bapak, semoga selalu diberi kekuatan. amin)

Dan Sabtu pagi ini. Family Gathering Sekolah Tunas Indonesia, Bintaro. Mirah yang berjasa menyebarkan gelang [solid] diantara guru, sesama orang tua dan anak-anaknya. Seru liat bapak, ibu, guru dan anak-anak pada pakai gelang merah.

Mirah\'s Family
Keluarga Sjarif

Realisasikan Niat

Alhamdulillah. Kita masih terus mendapat kepercayaan dari para sahabat solidaritas. Terutama sebagai tempat penyaluran donasi. Minggu ini, mulai dari Ibu Mirah yang semangat mengajak Sekolah Tunas Indonesia-nya, Echa untuk acara amal di Citos besok, Billy dan teman-teman 9 Ball yang datang dari Bandung, sampai sore tadi bertemu dengan Sagad – Linda (dari Fupei) dan Fajar Mukemen.

Apapun bentuknya. Berapapun besar dana yang bisa disisihkan. Yang terpenting niat tersebut direalisasikan. Tanpa mencoba, kita tidak akan pernah tahu seberapa besar hasil yang bisa diperoleh dan dinikmati anak-anak Indonesia. Jangan pernah menunda niat baik. Saatnya bergerak kawan.

Jadi teringat satu kiasan, kepakan sayap kupu-kupu di depan kita, bisa mengakibatkan badai besar di tempat lain.

Pembajak & Kenyataan

Hari ini membaca dua kolom menarik. Kebetulan lagi mampir di rumah orang tua. Langganan majalah dan korannya banyak disana. Sekalian numpang makan siang 🙂

Pertama, tajuknya A. Margana dari Kontan. Beliau menjelaskan kenapa bangsa Asia sekarang bisa maju dan mampu menjadi pesaing bagi negara-negara di Barat. Rahasianya adalah menjadi pembajak yang bijak.

Mencoba bangkit dari keterpurukan setelah perang dunia kedua sampai dengan tahun 80-an. Mulai dari Jepang, Taiwan, China sampai India. Mereka rajin menerjemahkan dan menerbitkan hampir semua buku teks dan buku ilmiah dari Barat. Dengan kata lain mereka menggalakan rakyatnya untuk membaca dan mengambil ilmu sebanyak-banyaknya dari negara maju. Hasilnya?

Tengok saja. Barang-barang sekitar kita. Dari komputer, pakaian dan bahkan sekarang SDM, semua Made in Japan, Taiwan, China atau India. Indonesia? bicara mayoritas, lebih senang bajak film atau musik. Alhasil. Kita puas hanya menjadi penonton dan penikmat kemajuan negara-negara tetangga.

Jangan bergantung selalu dengan pemerintah. Justru coba bantu sesuai dengan kemampuan yanga ada. Dari kolom kedua yang saya baca. Fareed Zakarian, kolumnis World View Newsweek, mengangkat Realism dan Responsibilty sebagai tulisannya kali ini.

Paragraph ketiga dari bawah. Dia menulis, banyak cara yang bisa kita lakukan dengan keadaan pemerintahan yang penuh ketidaktransparansian dan korupsi. Kalau masih takut sumbangan yang kita berikan akan dikorupsi. Uang yang ada bisa dialihkan dengan melakukan penelitian atau program sendiri yang menunjang kesejahteraan lingkungan sekitar. Kesehatan atau pendidikan misalnya.

Selain uang tersebut dikeluarkan seefisien mungkin, hasilnya tentu akan sangat berguna bagi masa depan satu negara (dalam tulisan ini dia contohkan Afrika). The Bill and Melinda Gates Foundation telah memperlihatkan dengan cara yang cerdas, fokus dan disiplin, siapa saja dengan kemampuan yang ada bisa melakukan perubahan.

Jangan hanya memberi. Merasa puas dan baik karena sudah membantu. Tidak salah juga. Namun, ada baiknya kalau masih punya kemampuan. Lakukan sesuatu untuk perubahan. Sekecil apapun. Semua akan balik ke keluarga kita nantinya.

Gelang Semangat

Dahsyat benar. 14 Juni waktu setempat. Asafa Powell berhasil memecahkan rekor lari 100 m di IAAF Super Grand Prix Tsiklitiria yang berlangsung di Stadion Olympic Athena. Waktunya? 9.77 detik!

Asafa Powell
(AP Photo/Thanassis Stavrakis)

Coba lihat ditangan kanannya. Gelang kuning LIVESTRONG. Gelang yang dikeluarkan Yayasan Lance Armstrong (dananya untuk penelitian kanker). Walaupun diluncurkannya sudah setahun yang lalu, gelang tersebut rupanya masih terus melekat di tangan Asafa.

Mudah-mudahan gelang [solid] bisa memberikan efek yang sama bagi para pemakainya. Gelang yang menjadi pengikat kebersamaan antar kita. Tidak hanya asesoris tren sesaat. Sama halnya kenapa Asafa masih terus memakai. Gelang [solid] bisa dijadikan satu kekuatan atau reminder bagi pemakainya, kalau masih banyak anak-anak Indonesia yang perlu kita bantu. Semangat!

1 Dari 5

Koran Jakarta Post hari ini mengangkat berita hasil survey terbaru dari badan dunia ILO. Diberitakan, 1 dari 5 anak tidak bisa meneruskan sekolah. Sekitar 19% anak-anak usia sekolah dasar tidak mampu masuk sekolah, yang mengakibatkan banyak anak-anak tersebut menjadi buruh/pekerja.

Survey dilakukan di lima provinsi: Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Para responden adalah mereka yang termasuk kategori keluarga tidak mampu dan mempunyai anak-anak usia sekolah.

Biaya yang tinggi menjadi faktor utama mengapa mereka tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya. 71% responden mengatakan faktor biaya yang mengakibatkan anak-anak mereka putus sekolah. Selain biaya sekolah, biaya seperti seragam dan transportasi merupakan beberapa faktor yang mengakibatkan mahalnya memasukan anak mereka ke sekolah.

Mari pelan-pelan sisihkan sekecil apapun, baik itu seragam bekas maupun sedikit dana untuk belikan buku atau alat tulis. Kumpulkan bersama keluarga atau teman dekat. Masih banyak anak-anak disekitar lingkungan rumah maupun kantor yang mendambakan seragam atau buku baru. Jadi sukarelawan kecil2an. Bantu anak-anak kecil ini. Biar kecil yang penting rutin 🙂

Ingin bantu anak-anak Indonesia? hubungi kami di info@tunascendekia.org atau hotline 08161833443 Dukungan anda sangat berarti!

CEK PENIPUAN!

Museum Penipuan Indonesia
MuseumPenipuanIndoneswia.tunascendekia.org
Dari setiap 100 orang miskin Indonesia, 50 tinggal di daerah yang tidak terdapat SMP!
Saatnya jalin solidaritasKEBERSAMAAN diantara kita...

jejaring sosial

Kunjungi Facebook Fan Page Yayasan Tunas Cendekia facebook.com/bantuAnakIndonesia