Ditulis pada: 25 December 2005
- oleh: Yudhis
Damai rasanya melihat masyarakat yang saling menjaga satu sama lain. Perayaaan malam dan hari Natal tahun ini diwarnai oleh kerjasama beberapa organisasi/komunitas lintas agama yang menjaga jalannya ibadah/misa di beberapa gereja di Jakarta dan kota-kota lainnya di Indonesia. Kebersamaan yang ditunjukkan ini semoga selalu tetap terjaga. Solidaritas yang diperlihatkan ini telah membuktikan jika kita semua satu dalam damai, hidup terasa lebih ringan dijalankan.
Pada acara Natal di Gunung Sitoli, Presiden menetapkan tema Natal 2005 yaitu remain & rebuilt. “Kita rindu hadirnya kembali kuatnya persaudaraan di Tanah Air tercinta ini. Hanya dengan bekerja keras bersama maka Indonesia dapat melakukan perubahan yang lebih baik di masa depan.”
Kami juga sudah sangat rindu. Sahabat solidaritas sudah membuktikan solidaritas persaudaraan masih ada diantara kita semua. Dan kami terus akan menjalin dan mengajak sahabat lain untuk memperluas kebersamaan yang ada ini untuk membantu anak-anak Indonesia 🙂
Selamat Natal…
“God created you not to fear or to kill each other but to love each other, to build and to cooperate together,” – Michel Sabbah, Latin Patriarch, Jerusalem. 25 Desember 2005.
Ditulis pada: 22 December 2005
- oleh: Yudhis
Tidak ada kata
Tidak ada perbuatan
Yang bisa melukiskan dan membalas kasih sayang seorang Ibu
Selamat Hari Ibu. Doa kami selalu untukmu…
Ditulis pada: 25 November 2005
- oleh: Yudhis
Guru. Tidak banyak menuntut. Sabar dan tekun memberi ilmu. Sebuah kebanggaan luar biasa untuk bisa hidup melihat anak muridnya berhasil. Tanggal 25 November sebagai bentuk penghargaan terhadap pengabdian mereka diperingati sebagai Hari Guru Nasional.
Sadar atau tidak. Sosok pahlawan tanpa tanda jasa ini paling sering dilupakan oleh mereka yang pernah dibekali ilmu. Kita lebih ingat memberikan hadiah kepada atasan atau rekanan yang terkadang hanya karena tuntutan jabatan dan pekerjaan. Sudah saatnya kita merenung sejenak untuk memikirkan nasib para guru. Mereka telah memberikan bekal tidak ternilai manfaatnya. Saatnya kita tergerak membantu para guru mencerdaskan kehidupan bangsa ini agar menjadi bangsa yang hebat!
Terima kasih guru. Terima kasih.
“Pada peringatan Hari Guru ini juga saya canangkan, guru sebagai profesi. Profesi yang mulia, profesi yang luhur yang patut kita berikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Mudah-mudahan dengan pencanangan ini kita dapat meningkatkan harkat dan martabat guru sebagai pejuang tanpa akhir.” Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Peringatan Hari Guru Nasional 2005.
Kabar hari ini:
Pagi ini bertemu dengan Poetry, putri dari keluarga Herryzon Azis. Walaupun sedang tugas di Davao City, Filipina, Herryzon menghubungi kami untuk menyampaikan niatnya membantu program Sepeda untuk Sekolah. Dia mengatakan bahwa di rumahnya ada sepeda yang bisa diambil untuk disumbangkan dalam program tersebut. Yang lebih menggembirakan lagi bagi program ini adalah disamping sumbangan dalam bentuk sepeda terdapat juga donasi dalam bentuk lain yang dititipkan Herryzon melalui Poetry.
Tapi…ada sedikit cerita memalukan dari kedatangan saya pagi tadi. Secara tidak sengaja ketika sedang menunggu di teras depan kediaman keluarga Herryzon, saya mematahkan salah satu kursinya! Ini namanya benar-benar tidak enak sekali. Sudah dibantu malah merusakan barang orang. Mohon maaf. Benar-benar tidak disengaja :).
Pak Herryzon dan keluarga, terima kasih atas segala dukungan dan bantuan yang diberikan. Bagi anda yang ingin membantu program Sepeda untuk Sekolah bisa lihat infonya disini. Intinya kami sedang mengumpulkan donasi untuk menyediakan 20 sepeda yang akan dikirim membantu anak-anak sekolah di dusun Kadisobo, desa Giri Mulyo, kecamatan Panggang, kabupaten Gunungkidul, provinsi DIY.
Sepeda tersebut untuk meringankan beban uang transport yang naik dari 5 ribu menjadi 15 ribu/minggunya. Batas akhir donasi sampai tanggal 12 Desember. Realisasi program tanggal 17-18 Desember. Info lebih banyak bisa hubungi info@tunascendekia.org atau 0813 1939 2773.
Ditulis pada: 11 November 2005
- oleh: Yudhis
Pahlawan merupakan satu sosok yang selalu mendapat tempat istimewa di hati setiap orang yang mengangguminya. Tidak sembarang orang yang bisa menjadi seorang pahlawan…yang dikenal. Tapi setiap orang secara sadar atau tidak telah menjadi pahlawan bagi mereka yang sedang dan akan menikmati jasa-jasanya.
Menjadi seorang pahlawan membutuhkan satu pengorbanan yang ikhlas untuk sebuah perjuangan yang diyakininya. Bagi mereka hidup adalah perjuangan demi masa depan yang lebih baik bagi bangsa dan negara. Perjuangan yang diwujudkan dengan berbagai cara dan kemampuan yang dimiliki. Mereka yang sekarang dikenang dan dihormati jasanya telah memperlihatkannya kepada kita semua.
Perjuangan yang jelas masih terus berlangsung. Kekuatan [solid] yang ditunjukkan oleh kampanye ini menjadi bukti, bibit-bibit pahlawan bangsa sedang bergerak membantu menyelamatkan bangsa.
Pahlawan dengan tanda jasa. Pahlawan tanpa tanda jasa. Berjuang tanpa pamrih bagi bangsa. 10 November. Hari Pahlawan…
Ditulis pada: 02 November 2005
- oleh: Yudhis
Tak terasa waktu cepat berlalu. Ramadhan akan segera meninggalkan kita. Bulan yang penuh dengan rahmat, maghfirah, dan pengampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada satu artikel yang pantas menggambarkan momen yang penuh dengan fitrah ini, diambil dari tulisan Asiandi di situs Eramuslim. Berikut sebagian kutipannya;
Mari kita rayakan hari kemenangan kita dengan bertafakkur dan bermuhasabah (merenung dan menilai kembali) atas apa yang telah kita lakukan di masa lalu. Kita mulai kembali lembaran hidup kita dengan sesuatu yang bermanfaat bagi masa depan kita. Kita luruskan kembali niat dan tujuan hidup kita di tengah kerasnya perjuangan yang tengah kita jalani.
Mohon maaf lahir dan batin sahabat. Sangat berharap kita bisa mengawali hari kemenangan ini dengan harapan, semangat dan kebersamaan yang lebih erat lagi. Melakukan yang terbaik semata-mata karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amin.
Ditulis pada: 01 October 2005
- oleh: Yudhis
Hari ini kembali saudara-saudara kita yang ada di Bali ditimpa musibah untuk kedua kalinya. Ledakan bom di dua tempat mengingatkan kejadian yang pernah mereka alami pada tahun 2002. Doa kami untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan.
Apakah kejadian ini merupakan satu pertanda? Saya kutip beberapa kalimat yang diambil dari situs ini. Sedikit banyak menjelaskan berbagai cobaan hidup yang sedang terjadi…
“…Ketika kita menerima cobaan hidup dari Allah, kita terkadang terlalu hiperbolik dengan menganggap seolah-olah kita adalah makhluk yang paling sengsara di muka bumi ini, dan tak jarang pula kita menganggap bahwa Allah telah berlaku tidak adil hanya kepada diri kita.
Sejenak mungkin kita lupa, bahwa disekitar kita ada banyak manusia yang diberikan ujian yang teramat jauh dan berat dibandingkan kita. Kalau kita mencoba jujur pada diri kita, kita akhirnya menemukan sebuah jawaban, rupanya musibah yang menimpa diri kita itu belum seberapa jika dibandingkan dengan orang lain.
Jika kita telah menyadari itu, patutkah kita bersenang karena ujian kita lebih ringan dibandingkan dengan orang lain? Sikap itupun sepertinya kurang tepat, karena semakin tinggi ujian yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya maka semakin tinggi pula derajat hamba tersebut…”
Di tengah ketidakpuasan bangsa ini, seharusnya kita bersyukur pada Yang Kuasa. Allah tidak bosan-bosannya memperlihatkan bangsa Indonesia satu petunjuk yang sangat jelas. Petunjuk tersebut adalah cobaan, musibah, tragedi atau apapun namanya. Kekurangan, kesengsaraan atau berbagai hal negatif yang kita anggap selama ini , tanpa disadari sudah jauh lebih baik keadaannya jika dibanding dengan mereka yang harus kehilangan keluarga, sahabat atau harta benda akibat berbagai musibah yang terjadi pada bangsa kita.
Saatnya kita kuatkan rasa [solid] diantara sesama. Dengan segala anugerah dan berkah yang kita dapatkan selama hidup, mari kita bantu mereka yang masih merindukan uluran tangan kita…