Ditulis pada: 13 December 2006
- oleh: Yudhis

Anak-anak yang sedang mewarnai gelas plastik dalam satu program pendampingan anak. Kemitraan komunitas Rumah Pelangi dan Yayasan Tunas Cendekia di Dusun Peden, Desa Baturono, Kecamatan Salam, Magelang.
Tidak lupa terima kasih untuk Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia (PSHK) yang sudah mengundang kami untuk hadir dalam seminar pembahasan hasil kajian Hak Anak di Indonesia, Hukum, Kebijakan dan Prakteknya. Hasil riset yang sangat berguna. Jika anda membutuhkan informasi seputar anak, saya sangat sarankan untuk mendapatkan hasil riset ini dan bisa langsung hubungi mereka.
Ditulis pada: 13 December 2006
- oleh: Yudhis
Alkisah di sebuah desa terpencil di Ende, NTT. Seorang dokter sedang berkonsultasi dengan ibu mengenai obat anaknya. “Begini bu, jangan lupa sebelum memberikan obat ini ke anak, dikocok terlebih dahulu botolnya (sambil memperagakan gaya menggoyang botol),” jelas sang dokter. Ibupun berterima kasih dan berjanji akan datang lagi untuk memeriksa perkembangan anaknya.
Beberapa hari kemudian datanglah ibu kembali ke puskesmas. Dengan terlihat cemas si ibu bercerita,”Begini dokter waktu itu khan dokter bilang untuk jangan lupa di kocok dulu botol obatnya sebelum diberikan ke anak saya.” “Betul sekali bu. Memangnya ada masalah?” tanya dokter. “Yah begini dok, saya itu sering lupa untuk mengocok dulu botolnya. Jadi karena sudah terlanjur diberikan anak, saya putar balikan saja badan anak saya. Sama saja khan dok?”
Cerita diatas bisa jadi disangka fiktif bagi sebagian orang. Namun bagi anda yang pernah ditempatkan sebagai dokter PTT alias penempatan tidak tetap di satu pelosok desa, mungkin masih banyak cerita lucu lainnya yang lebih tidak masuk akal 😀

Senin malam kemarin saya akhirnya bertemu dengan dr. Arie yang baru saja pulang dari penempatannya di kabupaten Ende, NTT. Selama penempatan dia telah membantu menyalurkan bantuan [solid] ke SD Watunggere, SD I dan SD III Wolooja. Untuk laporan penyaluran di Watunggere sudah ada laporannya yang bisa anda klik disini. Namun karena kendala tekhnis laporan SD Wolooja I dan SD Wolooja III di desa Mbuliwaralau terpaksa dia berikan ketika balik di Jakarta.
Kesehatan dan pendidikan adalah dua faktor yang mau tidak harus seiring sejalan. Arie sendiri melihat secara langsung bagaimana desa yang menjadi tempat penempatannya belum terjamah oleh listrik dan air bersih. 4 jam dari kota. Rute yang rawan longsor di musim hujan. Mandipun terpaksa 4 hari sekali. Saya yakin yang membuat dokter maupun guru yang ditempatkan di daerah terpencil ini bertahan adalah pengabdian dan kepedulian tumbuh semakin kuat setelah mereka melihat sendiri kondisi yang seharusnya setelah sekian lama bangsa ini merdeka bisa jauh atau sedikit lebih baik.
Kami memberikan salut kepada para guru dan dokter yang sudah mengabdi dan bertahan di segala kondisi. Walaupun realitas selalu menunjukan jauh dari harapan. Namun melihat keberadaan anda saja, saya yakin anak-anak ini akan merasa masih ada saudara mereka yang memberikan perhatian. Dimanapun dan siapapun di dunia ini, kita semua membutuhkan yang namanya perhatian dan kasih sayang.
Terima kasih juga untuk anda sahabat, yang sudah memeberikan donasi agar program [solid] terus bisa berlangsung…
Ditulis pada: 07 December 2006
- oleh: Yudhis
Setiap orang dalam kehidupannya pasti pernah melewati satu titik dimana dunia seakan tidak pernah memperhatikan dirinya. Bagi sebagian besar orang satu babak kehidupan tersebut mungkin hanya berlangsung dalam hitungan hari, minggu ataupun bulan. Namun bayangkan jika keadaan tersebut menimpa sekian tahun lamanya. Bisa saja saya salah melihatnya, namun mungkin hal inilah yang terjadi pada keadaan pendidikan dari anak-anak di sebagian besar wilayah Papua.

Jauhnya jarak, minimnya infrastruktur dan mahalnya trasnportasi, hanya sebagian kecil dari sejumlah masalah sosial kompleks yang membuat anak-anak Papua tidak mendapat perhatian sama dengan teman-teman mereka di wilayah Indonesia lainnya. Bergantung pada pemerintah pusat, terlalu jauh. Dengan bapaknya sendiri di pemerintah daerah, terkadang dinomor duakan karena alasan pekerjaan ekonomi yang lebih mendapat prioritas.
Satu hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai bapak, ibu, kakak maupun saudara dari anak-anak Papua ini adalah memberikan perhatian. Bukankah kesendirian yang sering kita alami bisa terobati dengan datangnya perhatian dari seseorang. Entah dari orang tua dan sahabat, bahkan seseorang yang kita tidak kenal dan tidak disangka. Dalam era tekhnologi saat ini bahkan tanpa hadir secara nyata, perhatian tersebut bisa diwujudkan dalam hadirnya perhtaian melalui sms, email, milis, forum maupun komunitas blog di dunia online. Tapi bagi anak-anak Papua yang masih jauh dari jangkauan fasilitas tersebut?
Pastikan kita berikan perhatian dalam bentuk yang paling mudah dilakukan. Dari memberikan donasi kepada LSM maupun organisasi yang membantu mereka. Sampai dengan membicarakan, membahas dan terus memonitor keadaan mereka ini. Jadilah suara mereka jika anda mempunyai kemampuan untuk itu. Gambarkan keadaan mereka jika anda bisa melakukan. Dan sahabat, doakan mereka jika anda mempunyai waktu…
Minggu ini laporan foto hasil donasi anda yang kami salurkan ke Pulau Biak, Papua sudah datang. Dalam dua foto dibawah ini menggambarkan penyaluran bantuan seragam sekolah ke dua sekolah. Pertama SD YPK Maryendi dan yang satunya SDN Mardori. Terima kasih sahabat atas perhatian yang anda berikan kepada mereka 🙂

Ditulis pada: 28 November 2006
- oleh: Yudhis
Salah satu cara untuk bisa memperluas sekolah ataupun komunitas yang bisa dibantu adalah membina hubungan dengan berbagai mitra yang ada. Mitra disini adalah individu maupun organisasi/yayasan/lsm yang memang mempunyai komitmen sama dengan [solid]. Membantu anak-anak Indonesia.
Sebagian besar kemitraan yang kami lakukan selama ini adalah berkat bantuan anda. Para sahabat solidaritas seperti anda inilah yang banyak sekali memberikan masukan informasi seputar sekolah mana yang amat membutuhkan bantuan. Pihak mana yang sekiranya bisa membantu memberikan bantuan tersebut. Sampai dengan para individu dari sahabat solidaritas ini yang menawarkan dirinya untuk menyalurkan bantuan secara langsung.
Tetapi layaknya sebuah hubungan, kemitraan yang kami jalani juga tidak selamanya lancar. Dibutuhkan lebih dari sekedar niat kuat serta kesamaan visi untuk bisa menjalankan kemitraan tadi secara maksimal. Kepercayaan, komunikasi dan profesionalitas adalah beberepa faktor yang bisa menentukan berhasil atau tidaknya penyaluran ini. Dan yang tidak boleh dilupakan adalah evaluasi dari hasil penyaluran tadi.
Perlu diingat adalah pastinya dalam menjalani hubungan/kemitraan akan ada banyak pihak yang senantiasa membuat kita kecewa. Sakitnya mungkin sama ketika cinta kita ditolak 😀 Namun, janganlah hal ini membuat anda untuk berhenti. Karena kekecewaan inilah yang akan menjadi bekal yang berharga untuk anda agar bisa melakukan yang terbaik di esok hari. Siapa tahu kemitraan ini memang belum merupakan ‘jodoh’ yang cocok. Hal inilah yang membuat kepercayaan yang telah anda berikan kepada [solid] tentunya akan terus kami jaga dan pertanggunggjawabkan. Tapi jika ada sekiranya yang tidak berkenan, kami sangat menunggu kritik dan masukan anda.
Berikut beberapa program kemitraan yang sedang dan akan dilakukan pada November-Desember:
Kemitraan dengan Yayasan Martha Christina Tiahahu. Lokasi penyaluran di Desa Nania dan Desa Negeri Lama, Ambon. Penyaluran dari [solid] berupa seragam sekolah lengkap. Sebagai pihak penanggungjawab penyaluran adalah Ny. Djaelani Mietje Saimima. Tel: 021 4502171

Kemitraan dengan Keluarga Alumni Universitas Wijayakusuma Purwokerto wilayah Jabodetabek. Lokasi penyaluran SDN 2 Windujaya dan SDN 2 kalisalak, Kedungbanteng. Penyaluran dari [solid] berupa perangkat olahraga lengkap ke masing-masing sekolah. Sebagai pihak penanggungjawab penyaluran adalah Nana Taryana. Tel: 081315942442.
Ditulis pada: 05 November 2006
- oleh: Yudhis
Ketika kami menjalankan kampanye [solid], salah satu tujuan utama dari penggalangan dana ini adalah untuk pengadaan mobil perpustakaan. Walaupun sempat ada sedikit keraguan, apa bisa dengan hanya mengandalkan gelang bisa terwujud. Ternyata yang kita takutkan tidak terjadi, bahkan target penjualan gelang sebanyak 20.000 sampai saat ini sudah terlampui. Tidak berhenti sampai mobil, mulai dari pengadaan buku sampai pembangunan kelas telah berhasil dilakukan.
Keberhasilan mewujudkan mobilKEPEDULIAN tersebut adalah salah satu kebahagian dan rasa syukur yang sulit ditulikan dengan kata-kata. Hanya dengan kepercayan dari anda yang membeli dan percaya pada kampanye ini yang membuat semua bisa terwujud 🙂
Bersama Komnas Anak awalnya mobil perpustakaan akan dikirim ke Aceh. Namun melihat kondisi, situasi dan SDM yang saat itu belum kondusif untuk pengoperasian, mobilKEPEDULIAN tersebut akhirnya disepakati dialihkan ke Kupang. Untuk Aceh sendiri pengiriman buku-buku serta program nonton bareng tetap dilakukan. Mobil sampai saat ini masih terus beroperasi memberikan layanan buku-buku bacaan serta pemutaran film.

Mitra kami yang menjalankan program mobilKEPEDULIAN ini adalah Panti Asuhan Roslin yang berlokasi di Desa Penfui Timur. Mas Budi dan istrinya Peggy yang menjadi motor kepedulian dari sebuah kegiatan yang amat sangat membantu anak-anak setempat. Saya sangat menyarankan anda untuk buka blog/situs mereka untuk membaca langsung perjalanan serta pengalaman luar biasa dari mereka berdua disana. Jika tertarik membantu, silahkan hubungi kami, langsung kontak ke mereka atau datang kesana langsung untuk melihat anak-anak panti yang lucu terlihat pada foto dibawah ini…

Ditulis pada: 16 October 2006
- oleh: Yudhis
Laporan foto bulan pertama program pendampingan di Dusun Peden, Desa Baturono, Kecamatan Salam, kerjasama Rumah Pelangi dan Yayasan Tunas Cendekia.

Senang sekali bisa melihat anak-anak ini antusias mengikuti berbagai kegiatan. Semua bisa berjalan dengan baik berkat dedikasi kepedulian dari para relawan Rumah Pelangi. Kegiatan pendampingan akan terus berjalan selama tiga bulan kedepan. Tentunya dana program ini semuanya berasal dari donasi pribadi yang sudah anda lakukan melalui [solid] 🙂
Saya selalu salut kepada para relawan yang membantu, baik dalam hal administrasi maupun yang turun ke lapangan. Mengisi waktu luangnya untuk memberikan pendampingan maupun pengajaran bagi anak-anak. Keberadaan para relawan ini terbukti telah banyak membantu ketika banyak orang yang membutuhkan mereka. Banyak yang mengatakan untuk menjadi relawan harus memilki kemampuan atau keahlian tertentu. Tidak sepenuhnya benar. Bisa jadi hanya masalah waktu dan dedikasi. Dalam setiap kesempatan, saya melihat anak-anak ini sudah teramat senang dengan melihat kehadiran para relawan.
Kehadiran para relawan ini merupakan suatu kebahagian tersendiri. Layaknya kita yang sedang dikunjungi sahabat atau saudara di rumah. Mungkin perasaaan inilah yang dirasakan oleh mereka. Bisa dibayangkan anak-anak yang berada di daerah pinggiran atau terpencil. Bisa dipastikan amat sangat jarang mereka bisa menerima dan melihat tamu baru. Jadi ingat sahabat dengan hanya hadir dalam kehidupan mereka, tekadang bagi anak-anak ini menjadi harapan tersendiri, terbukti masih ada yang peduli dengan mereka.
Terima kasih untuk para relawan dimanapun anda berada dan mengabdi. Bangsa ini sangat beruntung mempunyai sahabat yang peduli seperti anda…