Ditulis pada: 24 March 2006
- oleh: Yudhis
Konser gratis di malam minggu? Belum lagi kesempatan anda untuk bisa beramal sekaligus menikmati musik-musik terbaik di Bandung!
Lebih tepatnya Unit Apresiasi Musik ITB mengadakan Ganesha Music Event: Selasar Apresiasi pada Sabtu ini mulai jam tujuh malam. Tiket gratis. Anda hanya membawa satu barang yang bisa didonasikan, seperti buku, baju atau boneka. Bisa juga nanti membantu dengan membeli gelang merah [solid] yang disediakan di stan khusus selama acara. Hasil donasi dan barang yang terkumpul tentunya akan disalurkan melalui [solid]!
Datang langsung saja ke CC ITB. Sekali lagi Sabtu 25 Maret ini mulai jam 7 malam. Penampilan dari Homogenic, Polyester Embassy, Olive Tree, Jelly Belly, Vincent Vega, A Famous, Black Rasta Society, Anne Marie akan menjadi jaminan mutu akan lebih menikmati malam mingguan anda kali ini 😀

Siang tadi sudah bertemu dengan ketiga nama dibalik biang acara yaitu Adityo Pratomo, Adriadi Dimastanto dan Adhi Kurniawan. Baru sadar, ternyata namanya berawalan A semua. Terima kasih buat para sahabat Apres ITB yang sudah mengajak [solid] dalam acaranya. Semoga kemitraan ini bisa membawa manfaat bagi mereka yang akan kita bantu bersama.
Ditulis pada: 23 March 2006
- oleh: Yudhis
Pengalaman hidup mengajarkan kita untuk selalu siap setiap saat menerima hitam putih kehidupan. Berbagai cobaan dan kebahagiaan selalu silih berganti mewarnai perjalanan hidup ini. Gelap berubah menjadi terang. Terang kembali menjadi gelap. Saya pribadi sampai saat ini berusaha menjalani salah satu prinsip hidup yang mengingatkan, dalam setiap cobaan kita akan mendapatkan dua kemudahan.
Akan tetapi pemandangan yang saya temui pagi tadi ketika sampai di SDN Palasari III di Kecamatan Cijeruk, Bogor adalah salah satu contoh hitam putih kehidupan yang sangat nyata. Nyata yang saya maksud disini adalah keadaan kelas yang terpaksa dibatasi oleh sebuah sekat. Pembatasan ini terpaksa dilakukan karena sekolah hanya mempunyai empat ruang kelas untuk menampung enam kelas. Sehingga ada dua ruangan yang terpaksa dibatasi oleh sekat.
Kembali ke hitam putih yang saya temui. Pada setiap ruangan yang dibatasi oleh sekat, (pada foto dibawah) kita bisa melihat dengan jelas bagaimana anak-anak yang menempati bagian dekat jendela dalam kesehariannya akan selalu menerima terangnya cahaya. Sedangkan para anak-anak dari kelas lainnya yang berada di bagian lain, kesehariannya selalu berada dalam kegelapan karena dihalangi oleh sekat tersebut. Inilah sebagian dari gambaran “hitam putih” realitas wajah pendidikan dasar anak-anak di Indonesia.
Tapi kenyataan hidup yang harus dijalani oleh anak-anak ini setiap harinya tidak menghapus keceriaan dan semangat belajar dari mereka. Bahkan ketika ditawarkan untuk berpose didepan sekolahnya, tidak ragu mereka untuk menunjukan kebanggaannya 😀

Kedatangan kami kali ini ditemani oleh Vivin dan Yoki. Selain kekurangan ruangan kelas, sekolah tersebut saat ini sangat membutuhkan buku-buku pelajaran. Para orang tua murid sebagian besar berprofesi sebagai buruh. Jadi jangankan bicara soal buku pelajaran, kebutuhan hidup sehari-harinya juga masih sangat sulit untuk dicapai. Mudah-mudahan [solid] bisa menyediakan buku-buku tesebut.Paling tidak kita akan mencoba mensyediakan dulu untuk para anak-anak yang berada di kelas 4, 5 dan 6.
Jika anda ingin membantu mewujudkan bantuan ini, silahkan hubungi kami atau bisa langsung lakukan donasi melalui berbagai cara yang bisa anda lakukan. Semua penyaluran bantuan yang pernah kita lakukan selama ini memang berasal dari bantuan yang pernah anda lakukan…sekecil apapun 🙂
Ditulis pada: 20 March 2006
- oleh: Yudhis
Epri dari Portalinfaq.org membuat puisi ini khusus untuk program Sepeda untuk Sekolah.
Gemuruh Binar Nyala Api Bagi Anak Negri……….
Kami adalah tangan-tangan kecil
yang berkumpul karena ingin berbagi
Kami bukan orang hebat yang jago diplomasi
yang mungkin sering kau lihat berdasi di TV
Kami cuma anak-anak muda
dengan sedikit asa untuk anak-anak negri kami
yang terpinggirkan oleh kerasnya zaman
yang katanya reformasi ini
Kami hanyalah mimpi sederhana
yang inginkan sedikit sungging senyum adik-adik kami
yang masih punya semangat untuk sekolah di negri tercinta ini
Kami mungkin akan dianggap sepi oleh kalian
Karena Kami tak punya pengaruh dan banyak harta tuk yakinkan kalian……!
Sesepi dan miskinnya bangsa ini
pada penderitaan adik-adik kami yang ratusan sudah mati
karena tak lagi bisa makan nasi
dan teguk segelas susu hangat dari orang tua mereka
dan hari-hari ini para pemimpin bangsa ini begitu sibuk
untuk bisa perhatikan nasib adik-adik kami……….
apalagi koruptor dan penjilat konon malah bisa bebas keluar negri
dan kau lihat satu-satu mereka mati………
yah…..satu-satu mereka mati………….
karena kemiskinan mereka………..
Tapi sahabat
kami punya sedikit nyala api
diantara redupnya kilatan cahaya tak peduli kaum sibuk tak bernurani
Kuyakin ada sebagiannya pada kalian
Masuklah dalam barisanku sahabat
biarkan nyala apinya menjadi antusiasme besar
bagi anak-anak negri kita
dalam pendar Cahaya CintA
Cahaya Sederhana yang mungkin akan sangat berarti…………….
diantara rintih pilu dan kerasnya bunyi perut lapar adik-adik kita!!!!
Sahabat
Bergemuruhlah dalam desakan kebajikan
Bukankah Syurga Menanti Pemecah Beku Kejumudan Kebatilan????
Epri Abdurrahman Ra’fi…………
20/03/2006
Diantara Gemuruh Kampanye Solidaritas Kebersamaan –
Peduli-Berbagi Portalinfaq.org – Mapala UI – Tunas Cendekia
Ditulis pada: 17 March 2006
- oleh: Yudhis
Ivan Handoyo, figur dibalik semua foto yang ada pada iklan-iklan [solid], akan melakukan pemutaran perdana film dokumenter yang dibuatnya dengan judul Thank You and Good Night Mother. Selama dua hari dari 25-26 Maret 2006 bertempat di Goete Haus Jl. Sam Ratulangi 9-15 Menteng, Jakarta. Setiap pemutaran akan diawali pertunjukan musik. Pada tanggal 25 Maret Cozy Street Corner dan Bonita akan tampil jam 19.00. Tanggal 26 Maretnya, jam 15.00 akan tampil Sore dan jam 19.00 giliran The Mystical Awakening Project, The Dying Sirens dan Palmer Groove yang tampil.
Selain itu ada juga pameran foto hasil dari Ivan Handoyo, Diana Kertamihardja dan Ernest Wang.
“Ide pembuatan film ini berawal dari kolase memoriku dan sebuah apresiasi pada kondisi aktual akan respon kesadaranku. Ketika seseorang menikmati film ini, akan timbul banyak interpretasi. Ini merupakan film esai, kutipan puisi, atau catatan jurnal yang dipresentasikan melalui narasi juga kumpulan gambar fotografinya.”
“Aku mengawali penulisan surat untuk film ini, ketika memulai memahami fenomena kehidupan berselancar secara ritual dan disipliner. Dimana melalui kondisi ego-ku aku mulai meresponnya ketika pertama kali bertemu dengan para peselancar di desa Bandulu dan Carita, Banten di awal tahun Februari 2004. Sangat mengagumkan bagaimana segala bentuk manifestasi kecintaan mereka terhadap selancar dengan ombaknya memberikan sebuah pernyataan ide dan gagasan yang absolut untuk membuat karya ini. Kondisi pertemanan kami membuatku memahami semua “dongeng†mereka mengenai ombak, alam, dan esensinya.” – Ivan Handoyo
Ditulis pada: 15 March 2006
- oleh: Yudhis
Ari Dagienkz! sahabat solidaritas yang satu ini memang selalu penuh kejutan. Tahun lalu ketika dia membantu kampanye [solid] dengan ikut mensosialisasikan/menjualkan gelang merah, pernah mengatakan kalau saat itu dia sedang syuting film. Dalam film tersebut katanya dia main dengan Tora Sudiro , ceritanya sebagai anak buah kepercayaan.
Lalu Dagienkz bilang akan coba bujuk produser dan sutradaranya untuk boleh dia dan Tora pakai gelang merah [solid] dalam film tersebut. Ternyata film yang dimaksud adalah Ekspedisi Madewa Dan sudah pasti setelah mulai diputar filmnya pada awal Maret ini, banyak yang menanyakan seputar gelang merah yang mereka pakai 😀 Salut banget buat Dagienkz. Terima kasih banyak!
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk membangkitkan kepedulian orang-orang disekitar kita terhadap nasib anak-anak Indonesia. Dagienkz telah menunjukan salah satu cara yang sesuai dengan kemampuannya untuk bisa melakukan satu perubahan bagi masa depan Indonesia. Kalau anda? Pasti bisa juga 🙂
Jangan sampai lupa untuk nonton Ekspedisi Madewa

Ditulis pada: 14 March 2006
- oleh: Yudhis

Foto diatas merupakan Laporan foto lanjutan yang dilakukan oleh Rosdiani Rachim, Ketua Lembaga Pengembangan Potensi Insan Maluku (LPPIM), seputar dukungan [solid] terhadap anak-anak Suku Naulu di desa Sepa, Maluku Tengah.
Foto bukti penyaluran baru dapat dikirim sekarang, setelah dilakukan penyerahan bantuan di SD Inpres Ruhua Sepa pada tanggal 25 dan 26 Januari 2006. Terima kasih untuk para sahabat LPPIM yang telah melakukan penyalurannya hingga bisa bermanfaat bagi anak-anak yang membutuhkan. Dan tentunya juga anda, para sahabat solidaritas, yang terus dengan setia memberikan dukungan dan bantuannya!
Informasi lengkap seputar penyaluran bantuan ini bisa menghubungi:
Rosdiani Rachim
Save the Children. Graha Pettarani Building Lt. 4 Jl. AP Pettarani No. 45. Makassar, Sulawesi Selatan.
Tel: 0411 420 850 Fax: 0411 425 266 HP: 081355277900